logoLathifatul Khofi

Lathifatul Khofi

“Setiap nafas yang berhembus darimu, disitulah takdir Allah berlaku kepadamu.”

Cinta Hati Yang Suci

“Hati itu senantiasa haus, tak ada yang bisa memuaskan dahaganya melainkan rasa cinta kepada Allah, dan berdzikir mengingat-Nya.”

Categories

love

Sholawat Burdah by Syekh Muhammad Al-Bushairi

Category : Catatan Cinta Puisi Quote

16 - July - 2014

• Apakah karena ingat kekasih yang berada di Dzisalam, kau cucurkan air mata bercampur darah?

• Ataukah karena angin yang bertiup dari arah Kadhimah ataukah karena teringat cahaya kilat dalam gelap malam lembah Idhom?

• Kalau tidak mengapa kedua matamu tetap mengalir yang mestinya kau mampu menahannya dan kenapa hatimu tetap gundah padahal kau mampu menentramkannya.

• Adakah orang yang sedang kasmaran menyangka bisa merahasiakan rasa cinta? Sedang air matanya masih bercucuran dan hati yang masih terbakar api cinta.

• Kalau tiada rasa cinta, tentulah kau tidak akan mencucurkan air mata saat teringat puing-puing rumah kekasih dan tidak akan terjaga sepanjang malam saat teringat pepohonan dan gunung-gunung di tempat kekasih.

• Kenapa kau masih ingkar akan cintamu, padahal kejujuran air mata, sakit-sakitan adalah menjadi saksi atas cintamu.

• Rasa susah menetapkan dua garis yang terletak di kedua pipimu yang kuning pucat karena sakit dan mata merahmu yang selalu menangis mencucurkan air mata. (itulah bukti cintamu)

• Iya.. orang yang aku rindukan tiap malam, bayangannya Nampak di depan mataku yang membuatku tak bisa tidur, memang sakitnya cinta itu menghalangi kenikmatan.

• Maafkau untukmu wahai para pencaci gelora cintaku, seandainya kau bersikap adil takkan aku cela aku.

• Kini kau tahu keadaanku, pendusta pun tahu rahasiaku, padahal tidak juga kunjung sembuh penyakitku.

• Begitu tulus nasihatmu tapi tak kudengar semuanya, karena untuk para pencaci, sang pecinta tuli telinganya.

• Aku kira ubanku pun turut mencelaku, padahal ubanku pastilah tulus memperingatkanku.

• Sungguh hawa nafsuku tetap bebal tak tersadarkan, sebab tak mau tahu peringatan uban dan kerentaan.

• Tidak pula bersiap dengan amal baik untuk menjamu, sang uban yang bertamu di kepalaku tanpa malu-malu.

• Jika kutahu ku tak menghormati uban yang bertamu, kan kusembunyikan dengan semir rahasia ketuaanku itu.

• Siapakah yang mengembalikan nafsuku dari kesesatan, sebagaimana kuda liar dikendalikan dengan tali kekang.

• Jangan kau tundukkan nafsumu dengan maksiat, sebab makanan justru perkuat nafsu si rakus pelahap.

• Nafsu bagai bayi, bila kau biarkan akan tetap menyusu, bila kau sapih ia akan tinggalkan menyusu itu.

• Maka kendalikan nafsumu, jangan biarkan ia berkuasa, jika kuasa ia akan membunuhmu dan membuatmu cela.

• Gembalakanlah ia, bagai ternak dalam amal budi, janganlah kau giring ke ladang yang ia sukai.

• Kerap ia goda manusia dengan kelezatan yang mematikan, tanpa ia tahu racun justru ada dalam lezatnya makanan.

• Takutlah akan tipu daya dalam lapar dan kenyang, seringkali rasa lapar lebih buruk dari pada kekenyangan.

• Cucurkan air matamu karena melihat segala yang haram, peliharalah selalu rasa penyesalan yang mendalam.

• Lawanlah hawa nafsu dan setan, durhakailah, bila mereka tulus menasehatimu, curigailah..

• Jangan kau taati mereka sebagai musuh atau kawan, karena kau tahu bagaimana tipu daya musuh dan kawan.

• Kumohon ampunan Allah karena bicara tanpa berbuat, kusamakan itu dengan keturunan bagi orang mandul.

• Kuperintahkan engkau suatu kebaikan yang tak kulakukan, tidak lurus diriku maka tak guna kusuruh kau lurus.

• Aku tak berbekal untuk matiku dengan ibadah sunnah, tiada aku sholat dan puasa kecuali hanya yang wajib saja.

• Kutinggalkan sunnah Nabi yang sepanjang malam, beribadah hingga kedua kakinya bengkak dan keram.

• Nabi yang karena lapar mengikat pusarnya dengan batu, dan dengan batu mengganjal perutnya yang halus itu.

• Kendati gunung emas menjulang menawarkan dirinya, ia tolak permintaan itu dengan perasaan bangga.

• Butuh harta namun menolak, maka tambah kezuhudannya, kendati butuh padea harta tidaklah merusak kesuciannya.

• Bagaimana mungkin nabi butuh pada dunia, padahal tanpa dirinya dunia takkan pernah ada.

• Muhammadlah pemimpin dunia akhirat, pemimpin jin dan manusia, bangsa Arab dan non Arab.

• Nabilah penganjur kebaikan dan pencegah mungkar, tak satu pun setegas ia dalam berkata ya atau tidak.

• Dialah kekasih, dari tiap ketakutan dan bahaya yang datang menyergap.

• Dia mengajak kepada agama Allah yang lurus, mengikutinya berarti berpegang pada tali yang tak terputus.

• Dia mengungguli para Nabi dalam budi dan rupa, tak sanggup mereka menyamai ilmu dan kemuliannya.

• Para nabi semua meminta dari dirinya, seciduk lautan kemuliaannya dan setitik hujan ilmunya.

• Para rosul sama berdiri di puncak mereka mengharap setitik ilmu atau seonggok hikmahnya.

• Dialah rosul yang sempurna batin dan lahirnya, terpilih sebagai kekasih Allah pencipta manusia.

• Dalam kebaikannya, tak seorang pun menyaingi, inti keindahannya takkan bisa terbagi-bagi.

• Jauhkan baginya yang dikatakan Nasroni pada Nabinya, tetapkan bagi Muhammad pujian apapun kau suka.

• Nisbatkan kepadanya segala kemuliaan sekehendakmu, dan pada martabatnya segala keagungan yang kau mau.

• Karena keutamaannya sungguh tak terbatas, hingga tak satupun mampu mengungkapkan dengan kata.

• Jika mukjizatnya menyamai keagungan dirinya, niscaya hiduplah tulang belulang dengan disebut namanya.

• Tak pernah ia uji kita dengan yang tak diterima akal, dari sangat cintanya, hingga tiada kita ragu dan bimbang.

• Makhluq-makhluq (manusia) sulit untuk memhami hakikat nabi, dari dekat atau jauh, tak satu pun yang mengerti.

• Bagaikan matahari yang tampak kecil dari kejauhan, padahal mata tak mampu melihatnya bila berdekatan.

• Bagaimana seseorang dapat mengetahui hakikat sang nabi, padahal ia sudah puas bertemu dengannya dalam mimpi.

• Puncak pengetahuan tentangnya ialah bahwa ia manusia, dan ia adalah sebaik-baik ciptaan Allah.

• Segala mukjizat para rosul mulia sebelumnya, hanyalah pancaran dari cahayanya kepada mereka.

• Dia matahari keutamaan dan para Nabi bintangnya, bintang hanya pantulkan sinar mentari menerangi gulita.

• Alangkah mulia paras nabi yang dihiasi pekerti, yang memiliki keindahan dan bercirikan wajah berseri.

• Kemegahannya bak bunga, kemuliannya bak purnama, kedermawanannya bak lautan, kegairagannya bak sang waktu.

• Ia bagaikan dan memang tiada taranya dalam keagungan, ketika berada di sekitar pembantunya dan di tengah pasukannya.

• Bagai mutiara yang tersimpan dala kerangnya, dan kedua sumber, yaitu ucapan dan senyumnya.

• Tiada keharuman melibeihi tanah yang mengubur jasadnya, beruntung orang yang menghirup dan mencium tanahnya.

• Kelahiran sang nabi menunjukkan kesucian dirinya, alangkah eloknya permulaan dan penghabisannya.

• Lahir saat bangsa Persia berfirasat dan merasa, peringatan akan datangnya bencana dan angkara murka.

• Di malam gulita singgasana kaisar Persia hancur terbelah, sebagaimana kesatuan para sahabat kaisar yang terpecah.

• Karena kesedihan yang sangat, api sesembahan padam, sungai Eufrat pun tak mengalir dari duka yang dalam.

• Penduduk negeri Sawah bersedih saat kering keudannya, pengambil air kembali dengan kecewa ketika dahaga.

• Seakan sejuknya air terdapat dalam jilatan api, seakan panasnya api terdapat dalam air, karena sedih tak terperi.

• Para jin berteriak sedang cahaya terang memancar, kebenaran pun tampak dan makna kitab suci pun terujar.

• Setelah para dukunmemberi tahu mereka, agama mereka yang sesat takkan bertahan lama.

• Setelah mereka saksikan kilatan api yang jatuh di langit, seiring dengan runtuhnya semua berhala di muka bumi.

• Hingga lenyap dari pintu langitNya, satu demi satu setan lari tunggang langgang tak berdaya.

• Mereka berlarian laksana laskar Raja Abrahah, atau bak pasukan yang dihujani kerikil oleh tangan Rasul

• Batu yang nabi lempar sesudah bertasbih digenggamnya, bagaikan terlemparnya Nabi Yunus dari ikan paus.

• Pohon-pohon mendatangi seruannya dengan ketundukan berjalan dengan batangnya dengan lurus dan sopan.

• Seakan batangnya torehkan sebuah tulisan, tulisan yang indah di tengah-tengah jalan.

• Seperti juga awan-gemawan yang mengikuti nabi, berjalan melindunginya dari sengatan panas siang hari.

• Aku bersumpah demi Allah pencipta rembulan, sungguh hati Nabi bagai bulan dalam keterbelahan.

• Gua Tsur penuh kebaikan dan kemuliaan, sebab nabi dan Abu Bakar di dalamnya kaum kafir tak lihat mereka.

• Nabi dan Abu Bakar as-Shiddiq aman di dalamnya tak cedera, kaum kafir mengatakan tak seorang pun di dalam gua.

• Mereka mengira merpati takkan berputar di atasnya, dan laba-laba takkan buat sarang jika Nabi di dalamnya.

• Perlindungan Allah tak memerlukan berlapis baju besi, juga tidak memerlukan benteng yang kokoh dan tinggi.

• Tiada satu pun menyakiti diriku, lalu kumohon bantuan Nabi, niscaya kudapat pertolongannya tanpa sedikit pun disakiti.

• Tidaklah kucari kekayaan dunia akhirat dari kemurahannya, melainkan kuperoleh sebaik-baik pemberiannya.

• Janganlah kau pungkiri wahyu yang diraihnya lewat mimpi, karena hatinya tetap terjaga meski dua matanya tidur terlena.

• Demikian itu tatkala sampai masa kenabiannya, karena hatinya tidaklah diingkari masa mengalami mimpinya.

• Maha suci Allah, wahyu tidaklah bisa dicari, dan tidaklah seorang nabi dalam berita gaibnya dicurigai.

• Kerap sentuhannya sembuhkan penyakit, dan lepaskan orang yang berhajat dari temali kegilaan.

• Doanya menyuburkan tahun kekeringan dan kelaparan, bagai titik putih di masa-masa hitam kelam.

• Dengan awan yang curahkan hujan berlimpah, atau kau kira itu air yang mengalir dari laut atau lembah.

• Biarkan kusebut beberapa mukjizat yang muncul pada nabi, seperti nampaknya api jamuan, malam hari di alas gunung tinggi.

• Mutiara bertambah indah bila ia tersusun rapi, jika tak tersusun nilainya tak berkurang sama sekali.

• Segala pujian itu puncaknya adalah memuji, sifat dan pekerti mulia yang ada pada nabi.

• Ayat-ayat al qur’an mulia yang ada padanya, tapi Allah adalah kekal tak kenal waktu.

• Ayat-ayat al-qur’an keberadannya tidak sama dengan zaman, karena al-qur’an itu qodim sedang zaman itu baru, al-qur’an menceritakan kembalinya manusia kea lam baka, juga menceritakan kaum ‘Ad dan kaum Irom.

• Ayat-ayat yang selalu bersama kita dan mengungguli, mukjizat para nabi yang muncul tapi tak lesatari.

• Penuh kepastian dan tak sisakan bagi para musuh segala keraguan, ayat yang tak sedikit pun menyimpang dari kebenaran.

• Tak satu ayat pun ditentang kecuali musuh terberatnya akan kembali kepadanya dengan salam dan beriman.

• Keindahan sasatranya membuat takluk penantangnya, bak pencemburu membela kehormatan dari tangan pendosa.

• Baginya makna-makna yang saling menunjang bak ombak lautan, yang nilai keindahannya melebihi mutiara berkilauan.

• Keajaibannya banyak dan tak terhingga, dan keajaiban itu tak satu pun membuat bosan kita.

• Teduhlah mata pembacanya, lalu kukatakan padanya, beruntunglah engkau, berpeganlah selalu pada taliNya.

• Jika kau baca ia karena takut panas neraka Ladha, padamlah panas neraka Ladha karena kesejukannya.

• Bagai telaga kautsar wajah pendosa jadi putih karenanya, padahal dengan wajah hitam arang mereka datangi ia.

• Ia lurus bagai shirath, adil bagai timbangan, kitab-kitab lain takkan selanggen ia dalam keadilan.

• Jangan heran pada pendengkinya yang selalu ingkar, pura-pura bodoh padahal ia cukup paham dan pintar.

• Bagai orang sakit mata yang pungkiri sinar mentar, bagai orang sakit yang lezatnya air ia pungkiri.

• Wahai manusia terbaik yang dituju pekarangannya, berjalan atau menunggangi unta yang cepat larinya.

• Wahabi nabi yang jadi pertanda bagi pencari kebenaran, yang jadi karunia terbesar bagi pencari nikmat Tuhan.

• Malam itu kau berjalan dari masjidil haram ke al-aqsha, bagai purnama yang bergerak di malam gulita.

• Kau terus saja meninggi hingga sampai tempat terdekat, yang tak seorang pun mencapai atau mengharap.

• Para nabi mendahulukan berdiri di depan, tak ubahnya penghormatan pelayan kepada sang tuan.

• Kau terobos tujuh lapis langit bersama mereka, dalam barisan para malaikat kaulah pemimpin mereka.

• Hingga tak satu puncak pun tersisa bagi pengejarmu, tak sederajat pun bagi pencari kemuliaan tersisa olehmu.

• Karena keluhuranmu, derajat menjadi rendah semua, ketika kau diseur bagi pemimpin tunggal yang mulia.

• Agar kau peroleh hubungan khusus yang terselubungkan, juga rahasia yang senantiasa tersimpan

• Kau beroleh kebanggaan yang tak terbagi, kau lewat setiap derajat tanpa seorangpun menyaingi.

• Sungguh agung derajat yang kau dapatkan, sungguh jarang nikmat yang kepadamu telah diberikan.

• Kabar gembira waha umat islam bagi kita tiang kokoh, yang dengan inayah dari Allah, tak akan roboh.

• Ketika Allah juluki ia rosul termulia karena sangat taat, ia rosul termulia maka jadilah kita sebaik-baik umat.

• Berita kenabian membuat musuh takut dan gundah, bak lolongan serigala yang takutkan kambing lengah.

• Tak henti ia lawan para musuh di medan pertempuran, hingga mereka bagai daging terserak di alas meja jamuan.

• Mereka ingin lari dan mati saja bak kawan yang terkapar, mati menggelepar dikoyoak elang dan burung nasar.

• Siang malam berlalu tanpa mereka kenal waktu, hingga tiba bulan terlarang ketika nabi hentikan perang.

• Islam datang bagai tamu yang singgah di pekarangan, yang sangat ingin membunuh musuh-musuh islam.

• Ia bawa lautan pasukan di atas kuda yang meluncur, membawa para gagah berani bagai ombak yang berdebur.

• Mereka pejuang yang mengharap syahid dan surga Allah, menyerang untuk membasmi dan memusnahkan kekafiran.

• Sehingga berkat mereka islam yang semula tak dikenal menjadi tersohor dalam jalinan kekrabatan yang kental.

• Karena keperkasaan mereka hati musuh takut dan gelisah. Apakah bedanya anak domba dan si pemberani gagah.

• Mereka kokoh bagai gunung (kalau tak percaya)maka tanyakan pada musuh-musuh mereka tentang keberadaan mereka saat di medan perang.

• Dan tanyakan pada saat perang Hunaian, perang Badar dan perang Uhud yaitu saat orang-orang kafir panen kematian yang lebih ganas dari pada wabah Tha’un.

• Mereka kembali dengan pedang berlumur darah orang-orang kafir yang masih muda, hitam rambutnya mati dalam peperangan.

• Dan ibarat penulis yang menulis dengan tombak khot mereka, yang tak tertinggal satu titik pun dari huruf yang bertitik (sesuatu ibarat bagi orang-orang kafir yang semuanya kena luka)

• Mereka adalah orang yang menajamkan senjata sebagai tanda untuk membedakan mereka dengan orang-orang kafir, kembang mawar pu berbeda dengan kayu sala sebabg ada tandanya.

• Semerbak kemenangan yang tertiup angin, kau kira wanginya mawar dari taman.

• Ketabahan dan kekokohan itu bagaikan pepohonan yang hidup di atas tanah yang tinggi.

• Sehingga musuh menjadi ketakutan dan kebingungan, mereka tidak bisa membedakan antara cempe dan pahlawan sejati.

• Siapa saja yang bersama Rasulullah beroleh kemenangan, singa di rimba bila menemuinya akan diam gemetaran.

• Tak kan kau lihat sahabat nabi yang tak menang, tak aka nada musuh nabi yang tak jadi pecundang.

• Ia tempatkan umatnya dalam benteng agama, bagai singa yang tinggal di hutan bersama anaknya.

• Seringkali al-qur’an menjatuhkan para pendebat, seringkali dalil-dalil al-qur’an kalahkan musuh Muhammad.

• Cukup sebagai mukjizat, nabi berilmu padahal buta huruf, di zaman jahiliyah, nabi terdidik tanpa pengasuh.

• Kupuji nabi dengan pujian agar dosaku diampunkan, karena umurku habis untuk bersyair dan pengabdian.

• Keduanya mengalungiku dosa yang menakutkan, seakan aku hewan sembelihan yang siap dikorbankan.

• Kuturuti godaan masa muda untuk bersyair dan mengabdi, tiada satu pun kudapat kecuali dosa dan sesal diri.

• Alangkah ruginya jiwaku dalam perniagaannya, tak pernah membeli dan menawar agam dengan dunia.

• Barang siapa menjual akhirat untuk dunia sesaat, jelas ia tertipu dalam setiap jual beli yang diakad.

• Jika kuperbuat dosa, janjiku pada nabi tidaklah gugur, juga tali hubunganku dengannya terputus.

• Namaku juga Muhammad (Bushiri) jaminanku buat nabi, dialah sebaik-baiknya manusia yang tepati janji.

• Jika kelak di akherat ia tak sudi menolongku, maka alangkah rugi dan celakanya diriku.

• Tapi mustahil ia tolak para peminta syafaatnya, atau peminta perlindungannya pulang dengan sia-sia.

• Semenjak kuwajibkan diriku utnuk memberinya pujian, kudapatkan nabi sebaik-baik pemberi pertolongan.

• Pemberiannya tak luputkan seorang pun permintaannya, karena hujan mengguyur bunga di bukit secara merata.

• Dengan pujian ini tidaklah kuinginkan gemerlap dunia, seperti yang Zuhair minta ketika ia puji Raja Haram.

• Juga keluarga, para sahabat dan pengikut nabi, merekalah ahli taqwa nan lembut hati, dermawan nan suci.

• Selama angin timur mendoyongkan dahan pohon Ban, selama sang gembala senangkan onta dengan nyanyian.

• Wahai manusia termulia, tiada seorang pun di hari kiamat, tempat aku berlindung kecuali dirimu.

• Kebesaranmu takkan berkurang karena aku minta, Allah saja bersifat penyiksa kepada para pendosa.

• Dunia akhirat adalah sebagian kebaikanmu, ilmu Lauhil Mahfudh dan catatan amal sebagian ilmumu.

• Wahai jiwa janganlah berputus asa karena dosamu besar, sebab dalam ampunanNya, dosa besar jadi kecil.

• Semoga rohmat Allah yang dibagi kepada hambaNya, terbagi pada tiap hamba sebesar dosa dan durhakanya.

• Ya Allah, jadikanlah harapnku padaMu tiada berganti, jadikanlah keyakinanku padaMu tak putus-putusnya.

• Kasihanilah hambaMu ini di dunia akhira, kesabarannya akan hancur bila datang bencana berat.

• Perkenankan awan showalat-Mu yang tak terbatas, untuk curahkan kepadanya bagai hujan yang deras.

2 Comments

  1. audio hajiReply

    wah ini dia shalawatnya, bisa langsung di aplikasikan ini

    • Nurul ImamReply

      Diaplikasikan kemana pak ?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>